Archive for December, 2006

merenungi 2006 dan menyambut 2007

Sunday, December 31st, 2006

slamat tahun baru 2007
teman teman

meninggalkan tahun 2006
agak berat buat saya

ada banyak hal yang
saya harap
dapat diulangi
untuk diperbaiki
tapi waktu
ternyata gak bisa berhenti

ada banyak hal juga
yang saya harap
telah saya lakukan di tahun 2006
tapi ternyata gak kejadian
dan sedihnya
tahun akan sudah berganti
tanpa sempat memenuhi

mudah mudahan di tahun depan
ada kesempatan untuk memperbaiki
apa yang perlu diperbaiki
dan mencapai hal hal
yang perlu dipenuhi
sebagaimana direncanakan akan terjadi

tapi yang jelas di tahun 2006
saya belajar tiga hal penting

pertama, belajar menikmati kesendirian
dimana saya merasa lebih merdeka
lebih lepas dan lebih tenang
dalam menghadapi hidup
dan masa depan

gak lagi pening
merasa harus berpikir untuk dua orang
kini cukup mikirin diri sendiri saja
mau kemana kek
terserah…

kedua, saya belajar untuk menjadi teman bagi ibu
tepatnya, kami sama sama belajar untuk menjadi teman

ibu sekarang
juga sedang belajar untuk hidup sendiri
hal yang tidak mudah
mengingat usia dan
memang tidak pernah terbiasa hidup sendiri

pernah khawatir,
saya gak sayang kepadanya
dan suatu saat
akan mengirimnya ke panti jompo
duh, berat juga menghadapi prasangka

tapi akhirnya
ibu dan saya belajar untuk saling mengerti
saya gak akan bisa selalu mendampingi nya saat ini
tapi gak berarti saya gak peduli

setiap minggu
saya coba sempatkan untuk pergi berdua dengan ibu
nonton, makan, shopping dan sebagainya
sambil ngobrol, dari hati ke hati
sebagai teman
lebih nyaman….
dari pada saya paksakan tinggal di rumah terus
tapi repot di jalan setiap hari…

awalnya memang berat bagi ibu
tapi akhirnya juga beliau mau belajar
untuk mengerti anaknya sebagai sesama orang dewasa
gak sulit kalo kita mau saling kompromi…
terimakasih untuk kelegowoan hati ibu…

akhirnya ketiga,
saya belajar untuk berkata tidak pada pekerjaan
cukup sudah lebih dari tiga tahun
membanting banting tulang sendiri
hanya untuk membuktikan bahwa saya bisa

akhirnya saya sadar
kehidupan tidak menunggu saya
kehilangan kehidupan pribadi demi ambisi
sepertinya tidak worth-doing

seseorang pernah berkata kepada saya
kamu juga bisa melakukan pekerjaan saya
asal kamu melakukan ini
kemudian itu
gak akan lama pasti bisa

lalu saya melihat orang itu dgn seksama
seluruh hidupnya hanya ada di ruangan 3×3 saja
mungkin pindah ke ruangan yang lebih besar
tapi hanya sebatas
pindah dr satu ruangan ke ruangan yang lain

diluar itu
tidak ada kehidupan menunggunya
hanya seekor anjing hitam
yang juga senantiasa kesepian
menunggui nya pulang
ke rumah

lalu saya katakan padanya
thanks but no
i dont think i wanna be like you
full stop

lalu saya meninggalkannya
pergi cuti
dan mendaki rinjani
puas rasanya…
puas…

saat ini, bagi saya
hidup adalah sekarang
saat ini as we’re breathing

so, i want to live my life to the fullest
right here, right now
without any reservation…

welcome 2007!!!

tetaplah menjadi bintang di langit semeru

Sunday, December 31st, 2006

surat kepada bakti

[lanjutan suatu hari di cemoro lawang...]

bakti
foto foto mu belum sempat ku cetak
masih kupandangi setiap hari
di layar komputer sebelum tidur

aku suka foto mu yang pertama
dengan kebun bawang
gunung batok
dan semeru di kejauhan
sementara langit langit tengger 
direcoki oleh asap bromo

kamu tidak tersenyum
hanya memandang lurus ke arah kamera
kepada mataku

dan aku
seperti mengambil gambar mu
saat kau memandangi ku

aku suka…

aku juga suka foto terakhir 
yang ku ambil sebelum
meninggalkan cemoro lawang
dengan tidak melambai kepadamu
dari bison yang setengah terisi

kamu tidak tersenyum
hanya memandang lurus ke arah kamera
kepada mataku

dan aku
seperti mengambil gambar mu
saat kau memandangi ku

aku suka…

dan setiap kali
gambarmu kulihat kembali
matamu yang kucari
sinarnya masih kutemukan
sejuk memandangku

membawaku dalam ilusi
kau ada disini
bersamaku…

maaf
kuucapkan kata perpisahan
pada kursi
saat kujabat tanganmu
dan kau pun
membuang pandangan
kepada pintu
ketika aku bergegas pergi
dengan tidak menoleh ke belakang

maaf
aku tidak pintar mengakhiri
perjumpaan ini

hanya disaat raut wajah mu
bertanya dalam kecewa
hati ku pun ngilu mengingatnya
disepanjang jalan
meninggalkanmu…

namun bakti, ketahuilah…
sejuk sinar matamu
selalu berpendar dalam hatiku

memberikan ku harapan, masih ada
keindahan dalam keluguan cinta…
walau itu, bukan untuk kita…

cukup…

dengan segala kerendahan
hanya satu yang kupinta

foto foto ini akan kukirimkan
sesuai janjiku pada mu

agar kau simpan sebagai kenangan
dalam cerita tentang kita dan kebun bawang,
gunung batok, asap bromo dan kabut mahameru
serta anak anak kucing
yang bermain bersama induknya di atap rumah ladang
pada suatu hari di cemoro lawang…

suatu hari di cemoro lawang

Wednesday, December 27th, 2006

subuh menyambut natal,
ia menuntunku dengan penuh semangat
menyusuri jalan setapak di barat cemoro lawang
setengah berlari mengejar penanjakan dua
berharap harap dalam kecemasan
akankah semeru berbaik hati pagi ini
sesuai janji nya
pada ku

sedikit terengah aku mengikutinya
setengah bertanya mengapa
dadaku berdebar-debar
bukan dalam kelelahan mengejar langkahnya

bahwasanya pagi tadi sebelum berangkat
ia bertanya
‘mengapa akhirnya kamu memutuskan untuk bangun pukul 4pagi
dan pergi bersama ku?’
dengan senyum, ia menutup pertanyaan
seolah ia tahu jawabannya
dan sekedar menanti pembenaran dari ku

pipiku memerah
kepala ku berputar
mencoba mencari jawaban yang pintar

tadi malam sempat ku bilang padanya
‘gak janji bung, takut gak terbangun oleh gedoran mu’

sialnya, semalaman aku tak bisa tidur
memikirkan nya…
dan subuh tadi ini, dengan satu gedoran
aku segera terbangun!

ah, karena tak juga ku temukan
satu alasan pun yang cerdas
terhadap pertanyaan nya
aku pun terpaksa membalas
dengan senyuman
malas

dari matanya
ku tahu
ia sedikit kecewa

belum juga sampai di penanjakan dua
kami berhenti

dari ketinggian terlihat kabut awan di kaldera tengger
mulai merayap naik menyelimuti pedesaan
pendar pendar jingga sinar matahari di biru langit
mulai kelihatan di timur jagad

disela sela awan
cemoro lawang terlihat seperti mimpi
ada pucuk pucuk pohon semampai yang kering
rumah rumah kayu di antara perbukitan
perkebunan bawang dan kentang yang berkilau kilau oleh embun

aku terpaku dengan nafas tertahan
ah sial, ia malah terpaku
menatap ku terpaku memandang matahari dan awan

’sedikit lagi kita sampai’
ujarnya menarik langkah ku

‘jangan sampai kamu kelewatan lagi’
lanjutnya meneruskan langkah

aku menggerutu kecil
dan mengayunkan kaki mengikuti nya
kembali terengah dengan nafas sampoerna menthol
mengukur ketinggian

akhirnya
di sebuah balkon alam kami berhenti
ia tertawa geli melihat aku terjerembab duduk
dan sibuk mengatur nafas

‘dasar orang jakarta’
sindir nya
dan aku pun tertawa pasrah

dari kejauhan
kabut di kaldera tengger mulai pudar
batok tampak berdiri gagah
bromo menyeruak dari sisi kirinya

dari belakang, diantara keduanya
garis garis tubuh semeru mulai terlihat
namun puncak nya masih tertutup
oleh kepulan asap bromo
yang pagi itu, begitu beringas

kami saling bertatapan
’sial lagi’ keluh ku
‘tiga hari mengejar semeru,
tak sekalipun ia berkenan di pandang’

’sabar’ bujuk nya
‘tunggu sebentar lagi, mungkin angin
akan mengusir asap bromo’

‘atau, kamu harus datang lagi di musim kemarau’
hiburnya
‘dan sekalian, sempatkan untuk mendaki semeru’

aku membelalak
dan ia terbahak

kemudian ia duduk
mengambil tempat
jauh
dari dimana aku duduk

ah, mengaapaaaa? aku bertanya
namun hanya di hati saja

tak lama,
ternyata angin benar benar datang
dan dengan perlahan membuyarkan asap bromo
dari puncak semeru
huff huff
samar samar maha meru menyambut
dengan batuk batuk asap hitam
tidak sempurna jelas terlihat
namun cukup

dengan wajah sumringah
ia menoleh ke arah ku
seolah berkata
‘aku bilang juga apa…’

aku tersenyum senyum membalasnya
menunjuk-nunjuk semeru dengan girang
berlari ke kiri dan ke kanan
jongkok, berbaring, memanjat dinding
segalanya demi menangkap semeru
dalam keabadian

dari belakang
ia menatap ku dengan geli
dalam diam yang ia tak mengerti

akhirnya aku jatuh lelah
dan teringat
ada dia
duduk menanti di belakang ku

aku menoleh dan tersipu
‘maaf, membuat mu menunggu’

ia menggeleng sembari tersenyum
‘tidak usah dihitung’
balas nya

aku bermain dengan kamera
menimbang
mencari alasan

‘boleh ku ambil gambarmu?’
akhirnya ku tanyakan juga
kepadanya

ia terkesiap
kemudian mencoba tertawa
‘mau dimana?
tantang nya
tapi nada suaranya bergetar
ah…

‘disana’
aku menunjuk ke arah semeru
canggung, ia menuruti permintaanku

’sudah?’
‘belum…’
‘lama sekali?’
‘aku ambil beberapa gambar, boleh ya…’
‘oh..uh… boleh’
‘nanti aku kirim hasilnya’
‘oh, yaa… semuanya?’
‘ya… semuanya bila kamu mau’
‘kamu butuh alamat dan nomor telpon?’
(ah…)
‘kalau tidak keberatan memberikan…’
‘tidak… nanti aku tuliskan’
‘baiklah… ku tunggu’

pukul tujuh, kami beranjak turun

ia berjalan dua langkah di depan ku
di sisi kanan jalan, seolah berkata
‘berjalan lah disamping ku’

namun aku berjalan di belakangnya
dengan canggung…

sesekali ia menoleh ke belakang
seolah bertanya
‘mengapa?’

ah, tidak bung
aku tidak bisa kemana mana
belum bisa …

(gimana pembaca, cerita nya perlu diteruskan tidak..??)

ketika kau mencoba membunuh ku

Wednesday, December 27th, 2006

untuk
kesekian kalinya

kau coba hentikan
detak
jantungku

ketika ia yang setia
masih mencoba
terus berdegup
untuk mu

***

untuk
kesekian kalinya

kau coba tetas
arus
urat nadiku

ketika ia yang setia
masih mencoba
terus mengalir
demi mu

***

untuk
kesekian kalinya

kau coba bebat
tarikan nafasku

ketika ia yang setia
masih mencoba
terus berhembus
bagi mu

***

dan aku
menangis, geli
tertawa, 
dengan kedukaan
sedalam
yang tak terbayangkan

jatuh kasihan
pada mu

dan lelah
melihatmu

yang tak kian berhasil
membunuh
ku

***

sudahlah
kuputuskan
hari ini

kan ku hentikan
detak jantungku

kan ku tetas
arus nadi nya

dan ku bebat
tarikan nafas terakhir
demi mu

agar ku mati
sesuai keinginan mu

dan kau pun
segera berlalu

***

grandpa died…

Monday, December 18th, 2006

by Jeff Curtis

He left me with his roses
and his black dirt garden with his tomatoes and lettuce
but he forgot to take our evenings in the kitchen together
and he forgot to take the smell of his jacket
and the sound of my name, the way he said it

He left me with his catfishing and his care of tools
and a set of deer antlers on the wall
but he forgot to take his glass of wine and ginger ale
and his big hands around mine.

He left a grey tackle box
a handmade knife and some homemade sinkers
but he left his hat on the rack
and his glasses by the bed
but he forgot to take his name,
forgot to take his smile.

He left his cruficix on the wall,
the statue of the Virgin on his dresser
and the braid of garlic
he loved so well.

[in loving remembrance of my dear grandparents, friends that i've lost along the way, and the loved ones that are no longer around]

what’s left of world aids day…

Friday, December 1st, 2006

woken up this morning by an sms
i dialed the number quickly
he bursted immediately
‘at dawn, he died…’
he said
‘he was feeling better last week’
‘the doctor also prescribed him a better pain killer’
‘but finally he lost it’

pause….

‘thank you so much for everything’
‘family is fine n reliefed’
‘it’s all over now’
‘he doesnt have to suffer too long’

‘my dear, i…’
click … phone went off

choked on my bed
i closed myeyes

it’s another day
of counting

it’s another day
of losing

it’s another day
of trying to survive

in the end
this is what’s left…
of another world aids day …

thanks mbak, for bringing us here…

Friday, December 1st, 2006

catatan kaki rangkaian peringatan hari aids 1 dec 2006 di indonesia

‘aids is a sin’
the vice president said
to her face

she curved her lips
in a bitter smile

‘too late to say that to my late husband,
no pak kalla?’
‘.. and please tell our newborn son,
he is also a sinner!’

she didnt say it loud
but she’s loudly crying in her heart

‘ministry of health has assured
affordable care & free treatment for all,
in hundreds of hospitals across this country’
health minister said
with pride 

a guy smirked and raised his hand

‘not in my city,bu…’
‘my friends were all left dead
at the front gate’
‘no dentist would want to pull a tooth
out of my mouth’
‘the gynecologists refused to treat my wife’
‘which country are you talking about?’

someone coming in running
a messenger for bu siti fadilah

‘everybody is waiting for you bu’
‘we’re running late…
for the 1million flyers aids campaign kicking off
at bundaran HI’
‘you must leave now…’
he said
trying to usher ibu siti
out of the room

she stood up…
looking weary…

‘please try to understand…
i have worked very hard to serve your needs’
she said
‘i’m sure this is just a matter of time..’
until we’re able to train
all our health care professionals
to treat you better
she paused..
‘i ask for your patience
to just deal with this problem at the moment’
.. patiently’

then she left
quickly …
along with the parade of staff
in pink campaign t-shirts
and bags of aids flyers

‘don’t you know..
pink is for breast cancer, bu
not for aids…’
someone whispered

‘and the red ribbon
is a victory mark upside down’
‘the fight is not yet over
we’re still losing…’
the whisper continued

‘and at the rate you’re responding, bu’
‘we’ll never catch up to win…’
the whisper stopped 

but ibu siti was no longer there
to listen to this whisper

simply, we understood
no one was realy meant to be there to listen..

i cupped my hand to my face
so much work
so much energy spent
to get this going

someone tapped my shoulder
‘thanks mbak for bringing us here..!
a woman said

immediately it killed me

’sama-sama yaaa…’
‘thank you for sparing your time to come’
i said.. meekly n weakly..
…this job is worthless…

she left
people left
i left

1million flyers aids campaign started at bundaran HI
and ibu siti launched it with a big smile on her face

‘i am glad to be here with you
in this 1million flyers aids campaign
to celebrate… uh oh…
i mean.. to commemorate world aids day..’

people laughed
she laughed
while we cried…

for ibu siti
it was indeed a celebration!