surat seorang paman 2: setetes pun jangan sisakan

kepada dewatuak

[oleh JJ. Kusni]

+ masih jauhkah perjalanan?

- pandanglah cakrawala kau tahu jawabnya

+ dan betang
kapan kita kembali ke sana?

- betang itu pangkalan
anak enggang tahu jalan pulang
kernanya aku tak pernah merasa kau hilang
kecuali rindu anak bertarung
jauh atau dekat
pertarunganan ya pertarungan itu
rumah kita sesungguhnya
siang-malam kita bertemu
ruang sia-sia memisah utus panarung
rengan tingang nyanak jata

kau dengarkah lahapku membelah angkasa?
tujuh lahap sanggup menggetarkan bumi orang katingan bilang
dan kukira kau kan tergelak kemudian melihat wajah dan tubuhku
pulang-pulang penuh parit parut duka dan luka
orang katingan bilang:
"jangan jadi dayak kalau takut luka tak pandai menang"
"tuak itu air kehidupan, danum kaharingan"
jika tak berjumpa kalau aku jadi pohon tumbang
detik penghabisan kureguk tuak itu
kureguk dari tanduk kerbau lambang hidup tak kukhianati
kureguk mengucapkan cinta dan percaya kepada kalian yang tinggal
bagai barisan naga segala warna mengebaskan ekor-ekor perkasa
mencengangkan sisa-sisa hutan bulan dan matahari

dewatuak, daniel, mering, martinus, medy, elisae dan semua
tengoklah sejenak ke belakang
elis, shinta dan entah siapa lagi nama mereka
lelaki perempuan dayak muda kekinian
mereka berlari ke depan menggenggam harkat dan hakekat
mereka — turunan berikut dari utus panarung
cintailah angkatan mereka!

satu jatuh
sejuta tumbuh
kubayangkan sungai dan danau gemuruh
gelepar hempasan naga segala warna
bangkit dari lubuk*)
ayo, mari minum bersama
tuak kehidupan danum kaharingan!
setetes jangan sisakan!

Perjalanan 2002

Catatan:
Menurut legenda Dayak Katingan,
jika naga segala warna bangkit dari lubuk
maka saat itu merupakan pertanda kebangkitan kehidupan baru di bumi ini,
bumi Tambun Bungai.

Leave a Reply